Thursday, February 22, 2007

Firasat, Sebuah Opini

Pengantar :

Tulisan ini merupakan perluasan dari artikel : Alam Semesta sebagai Hologram (http://www.tf.itb.ac.id /~eryan/FreeArticles/AlamSemestaHologram.html) dengan sedikit menghubungkan dengan firasat (satu pendekatan yang ilmu pengetahuan belum merambah dengan cukup meyakinkan. Didapat dari blog “http://blog.doeljoni.sysadmin.or.id/2005/10/17/ firasat-sebuah-opini/”, tapi ketika dicek nggak berhasil. Jadi, saya copy pastekan saja dari temboloknya si gugel. Yang menarik dari pembahasan ini adalah kesadaran realitas semu, adanya hubungan subatomik antara bagian satu dengan lainnya yang tidak terpisahkan. Seolah satu untuk segalanya, dan segalanya adalah satu. Mirip juga seperti pemikiran wahdatul wujud, Ibnu Arabi yang banyak dipertentangkan itu. Seperti ada dikedalaman sufi. Jalin menjalin. Ada unsur religiositas di dalamnya. Jadi, selalu ada hubungan yang belum terdeteksi. Mungkin juga suatu saat kita bisa memikirkan (atau mempertanyakan) partikel apa yang membawa do’a pada Pemilik segalanya……

Subjektifitas Firasat

Memaknai sebuah firasat terkadang jauh lebih sulit ketimbang memahaminya setelah sebuah/atau serangkaian peristiwa terjadi. Seringkali kita secara aneh mengalami perasaan/kondisi yang membuat kita melakukan atau membatalkan serangkaian kegiatan baik yang telah maupun belum sama sekali direncanakan.

Ya, firasat bukanlah sebuah obyektifitas. Firasat adalah sebuah subyektifitas yang akan sangat sulit dipahami oleh logika yang dibangun oleh positivisme.

Sains didominasi oleh aliran positivisme, sebuah aliran yang sangat menuhankan metode ilmiah dengan menempatkan asumsi-asumsi. Menurut aliran ini, sains mempunyai reputasi tinggi untuk menentukan kebenaran, sains merupakan ‘dewa’ dalam beragam tindakan (sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain). Menurut sains, kebenaran adalah sesuatu yang empiris, logis, konsisten, dan dapat diverifikasi. Sains menempatkan kebenaran pada sesuatu yang bisa terjangkau oleh indra. Dalam sains semuanya harus bisa diukur.

Firasat, dalam paham ini tidak akan mendapat posisi, sebagaimana agama yang keberadaannya akan tertolak mentah-mentah. (Firasat atau memahami suatu kejadian melalui model-model yang sederhana)

Mengapa sains dibatasi hanya di wilayah yang rasional, sementara manusia memiliki hanyak hal yang secara rasional belum dapat dijelaskan? Lalu apakah itu kemudian dianggap tidak ada? Sains menepis pandangan-pandangan yang dianggap kebetulan, padahal seperti di dunia ini tidak ada yang sifatnya kebetulan. Dapatkan sains mengukur cinta? Dapatkah sains menjelaskan firasat ?

Manusia yang mempunyai the soul (jiwa) berkata jujur: “Hidupku hampa walau kubergelimang harta dan kebahagiaan, aku kehilangan makna, apa fungsi aku hidup?”. Sains hanya bisa menutup mulut, penjelasannya hanya ada di agama. Sains tertunduk malu, dan agama pun mengajak untuk bersanding bukan bertanding.

Holographic Universe

Universitas Paris, 1982, Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi satu sama lain dengan seketika tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. Hal ini melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu.

David Bohm, pakar fisika teoretik dari Universitas London, yakin bahwa temuan Aspect menyiratkan bahwa realitas obyektif itu tidak ada; bahwa sekalipun tampaknya pejal [solid], alam semesta ini pada dasarnya merupakan khayalan, suatu hologram raksasa yang terperinci secara sempurna.

Sebuah hologram adalah suatu potret tiga dimensional yang dibuat dengan sinar laser. Untuk membuat hologram, obyek yang akan difoto mula-mula disinari dengan suatu sinar laser. Lalu sinar laser kedua yang dipantulkan dari sinar pertama ditujukan pula kepada obyek tersebut, dan pola interferensi yang terjadi (bidang tempat kedua sinar laser itu bercampur) direkam dalam sebuah pelat foto. Ketika pelat itu dicuci, gambar terlihat sebagai pusaran-pusaran garis-garis terang dan gelap.

Nah, saat foto itu disoroti oleh sebuah sinar laser lagi, muncullah gambar tiga dimensional dari obyek semula di situ. Sifat tiga dimensi dari gambar seperti itu bukan satu-satunya sifat yang menarik dari hologram. Jika hologram sebuah bunga mawar dibelah dua dan disoroti oleh sebuah sinar laser, masing-masing belahan itu ternyata masih mengandung gambar mawar itu secara lengkap (tetapi lebih kecil). Bahkan, jika belahan itu dibelah lagi, masing-masing potongan foto itu ternyata selalu mengandung gambar semula yang lengkap sekalipun lebih kecil. Berbeda dengan foto yang biasa.

Sebuah hologram mengajarkan bahwa beberapa hal dari alam semesta ini mungkin tidak akan terungkap dengan pendekatan lama, mengurainya satu persatu. Jika kita mencoba menguraikan sesuatu yang tersusun secara holografik, kita tidak akan mendapatkan bagian-bagian yang membentuknya, melainkan kita akan mendapatkan keutuhan yang lebih kecil.

Bayangkan sebuah akuarium yang mengandung seekor ikan. Bayangkan juga bahwa Anda tidak dapat melihat akuarium itu secara langsung, dan bahwa pengetahuan Anda tentang akuarium itu beserta apa yang terkandung di dalamnya datang dari dua kamera televisi: yang sebuah ditujukan ke sisi depan akuarium, dan yang lain ditujukan ke sisi lainnya. Ketika Anda menatap kedua layar televisi, Anda mungkin menganggap bahwa ikan yang ada pada masing-masing layar itu adalah dua ikan yang berbeda. Bagaimana pun juga, karena kedua kamera diarahkan dengan sudut yang berbeda, masing-masing gambar ikan itu sedikit berbeda satu sama lain. Tetapi sementara Anda terus memandang kedua ikan itu, akhirnya Anda akan menyadari bahwa ada hubungan tertentu di antara kedua ikan itu.

Hubungan yang tampaknya “lebih cepat dari cahaya” di antara partikel-partikel subatomik sesungguhnya mengatakan kepada kita bahwa ada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, yang selama ini tidak kita kenal, suatu dimensi yang lebih rumit di luar dimensi kita, dimensi yang beranalogi dengan akuarium itu. Tambahnya, kita memandang obyek-obyek seperti partikel-partikel subatomik sebagai terpisah satu sama lain oleh karena kita hanya memandang satu bagian dari realitas sesungguhnya.

Pada tingkatan yang lebih dalam, realitas merupakan semacam superhologram yang di situ masa lampau, masa kini, dan masa depan semua ada (berlangsung) secara serentak. Ini mengisyaratkan bawah dengan peralatan yang tepat mungkin di masa depan orang bisa menjangkau ke tingkatan realitas superholografik itu dan mengambil adegan-adegan dari masa lampau yang terlupakan.

Otak Kita Juga Holographic

Dengan bekerja secara independen di bidang penelitian otak, pakar neurofisiologi Karl Pribram dari Universitas stanford, juga menerima sifat holografik dari realitas. Pribram tertarik kepada model holografik oleh teka-teki bagaimana dan di mana ingatan tersimpan di dalam otak. Selama puluhan tahun berbagai penelitian menunjukkan bahwa ingatan tersebar di seluruh bagian otak, bukan tersimpan dalam suatu lokasi tertentu. Masalahnya, saat itu tidak seorang pun dapat menjelaskan mekanisme penyimpanan ingatan yang bersifat “semua di dalam setiap bagian” yang aneh ini.

1960, Pribram membaca konsep holografi dan menyadari bahwa ia telah menemukan penjelasannya. Pribram yakin bahwa ingatan terekam bukan di dalam neuron-neuron (sel-sel otak), melainkan di dalam pola-pola impuls saraf yang merambah seluruh otak, seperti pola-pola interferensi sinar laser yang merambah seluruh wilayah pelat film yang mengandung suatu gambar holografik. Dengan kata lain, Pribram yakin bahwa otak itu sendiri merupakan sebuah hologram.

Teori Pribram juga menjelaskan bagaimana otak manusia dapat menyimpan begitu banyak ingatan dalam ruang yang begitu kecil. Pernah diperkirakan bahwa otak manusia mempunyai kapasitas mengingat sekitar 10 milyar bit informasi selama masa hidup manusia rata-rata (atau kira-kira sebanyak informasi yang terkandung dalam lima set Encyclopedia Britannica). Kemampuan mengagumkan dari manusia untuk mengambil informasi yang diperlukan dari gudang ingatan yang amat besar itu dapat lebih dipahami jika otak berfungsi menurut prinsip-prinsip holografik.

Sejumlah bukti yang mengesankan mengisyaratkan bahwa otak menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk menjalankan fungsinya. Tetapi aspek yang paling membingungkan dari model otak holografik Pribram adalah apa yang terjadi apabila model itu dipadukan dengan teori Bohm. Oleh karena, bila kekonkritan alam semesta ini hanyalah realitas sekunder dan bahwa apa yang ada “di luar sana” sesungguhnya hanyalah kekaburan frekuensi holografik, dan jika otak juga sebuah hologram dan hanya memilih beberapa saja dari frekuensi-frekuensi yang kabur dan secara matematis mengubahnya menjadi persepsi sensorik, apa jadinya dengan realitas yang obyektif?

Secara sederhana, realias obyektif itu tidak ada lagi. Seperti telah lama dinyatakan oleh agama-agama dari Timur, dunia materi ini adalah Maya, suatu ilusi, dan sekalipun kita mungkin berpikir bahwa kita ini makhluk fisikal yang bergerak di dalam dunia fisikal, ini juga suatu ilusi.

Kita ini sebenarnya adalah “pesawat penerima” yang mengambang melalui suatu lautan frekuensi, dan apa yang kita ambil dari lautan ini dan terjemahkan menjadi realitas fisikal hanyalah satu channel saja dari sekian banyak yang diambil dari superhologram itu.

Paradigma Holographic

Gambaran realitas yang baru dan mengejutkan ini, yakni sintesis antara pandangan Bohm dan Pribram, dinamakan paradigma holografik. Banyak Ilmuhwan percaya bahwa paradigma itu merupakan model realitas yang paling akurat yang pernah dicapai sains. Lebih dari itu, sementara kalangan percaya bahwa itu dapat memecahkan beberapa misteri yang selama ini belum dapat dijelaskan oleh sains, dan bahkan dapat menegakkan hal-hal paranormal sebagai bagian dari alam. Banyak peneliti, termasuk Bohm dan Pribram, mencatat bahwa banyak fenomena para-psikologis menjadi lebih dapat dipahami dalam kerangka paradigma holografik.

Dalam suatu alam semesta yang di situ otak individu sesungguhnya adalah bagian yang tak terbagi dari hologram yang lebih besar dan segala sesuatu saling berhubungan secara tak terbatas, maka telepati mungkin tidak lebih dari sekadar mengakses tingkat holografik itu. Jelas itu jauh lebih mudah dapat memahami bagaimana informasi dapat berpindah dari batin individu A kepada batin individu B yang berjauhan, dan memahami sejumlah teka-teki yang belum terpecahkan dalam psikologi. Paradigma holografik menawarkan model untuk memahami banyak fenomena membingungkan yang dialami orang dalam keadaan “kesadaran yang berubah” [altered states of consciousness].

1950-an, seorang pasien mental, wanita yang tiba-tiba merasa yakin bahwa dia mempunyai identitas seekor reptil betina prasejarah. Selama halusinasinya, dia tidak hanya menguraikan secara amat mendetail tentang bagaimana rasanya terperangkap dalam wujud seperti itu, melainkan juga mengatakan bahwa bagian anatomi binatang jantan adalah sepetak sisik berwarna pada sisi kepalanya.

Yang mengejutkan, sekalipun wanita itu sebelumnya tidak mempunyai pengetahuan tentang hal-hal itu, seorang ahli zoologi belakangan menguatkan pendapatnya.

Regresi ke dalam dunia binatang bukanlah satu-satunya fenomena psikologis yang menjadi teka-teki yang ditemukan. Orang-orang yang tidak terdidik tiba-tiba memberikan gambaran yang terperinci tentang praktek penguburan Zoroaster dan adegan-adegan dari mitologi Hindu. Jenis pengalaman yang lain adalah orang-orang yang emberikan uraian yang meyakinkan tentang perjalanan di luar tubuh, atau melihat sekilas masa depan yang akan terjadi, atau regresi ke dalam inkarnasi dalam salah satu kehidupan lampau.

Psikologi Transpersonal

Bentangan fenomena yang sama muncul dalam sesi-sesi terapi yang tidak menggunakan obat-obatan [psikotropika]. Oleh karena unsur yang sama dalam pengalaman-pengalaman seperti itu tampaknya adalah diatasinya kesadaran individu yang biasanya dibatasi oleh ego dan/atau dibatasi oleh ruang dan waktu, fenomena itu disebut sebagai “pengalaman transpersonal”, dan pada akhir tahun 1960-an dirintis cabang psikologi yang disebut “psikologi transpersonal” yang sepenuhnya mengkaji pengalaman- pengalaman seperti itu.

Selama bertahun-tahun Perhimpunan Psikologi Transpersonal [Association of Transpersonal Psychology] tidak dapat memberikan suatu mekanisme yang dapat menjelaskan berbagai fenomena psikologis aneh yang mereka aksikan. Tetapi semua itu berubah dengan lahirnya paradigma holografik.

Sebagaimana dicatat baru-baru ini, jika batin memang bagian dari suatu kontinuum, suatu labirin yang berhubungan bukan hanya dengan setiap batin lain yang ada dan yang pernah ada, melainkan berhubungan pula dengan setiap atom, organisme, dan wilayah di dalam ruang dan waktu yang luas itu sendiri, maka fakta bahwa batin kadang-kadang bisa menjelajah ke dalam labirin itu dan mengalami hal-hal transpersonal tidak lagi tampak begitu aneh.

Mungkin kita sepakat tentang apa yang “ada” atau “tidak ada” oleh karena apa yang disebut “realitas konsensus” itu dirumuskan dan disahkan di tingkat bawah sadar manusia, yang di situ semua batin saling berhubungan tanpa terbatas.

Di dalam alam semesta yang holografik, tidak ada batas bagaimana kita dapat mengubah bahan-bahan realitas.

Yang kita lihat sebagai ‘realitas’ hanyalah sebuah kanvas yang menunggu kita gambari dengan gambar apa pun yang kita inginkan. Sesungguhnya, bahkan paham-paham kita yang paling mendasar tentang realitas patut dipertanyakan, oleh karena di dalam alam semesta holografik, sebagaimana ditunjukkan oleh ribram, bahkan perisitiwa yang terjadi secara acak [random] harus dilihat sebagai berdasarkan prinsip holografik dan oleh karena itu bersifat determined. ‘Sinkronisitas’ atau peristiwa-peristiwa kebetulan yang bermanfaat, tiba-tiba masuk akal, dan segala sesuatu dalam realitas harus dilihat sebagai metafora, oleh karena bahkan peristiwa yang paling kacau mengungkapkan suatu simetri tertentu yang mendasarinya.

Kearifan Timur

Jauh-jauh hari kearifan dari timur telah mengajarkan apa itu realitas sejati (superhologram) dibalik realitas obyektif yang tertangkap oleh indrawi manusia. Bahkan bukan saja memberitahukan tentang adanya realitas sejati tersebut, namun juga mengajarkan teknik-teknik dan upaya pencapaiannya. Dalam konteks bahasanya dikenal beragam istilah seperti firasat, was-was, ilham, sir, angan-angan dan ragam-macam lainnya. Dan juga mengajarkan juga cara membedakannya, mana yang datang dari kenaifan jiwa, mana yang datang dari sesuatu di luar jiwa, dan mana yang dateng dari kearifan tertinggi di luar jiwa kita. Hal-hal yang mana dulunya ditolak oleh psikologi maupun sains materi.

Mereka telah mengenal beragam teknis ‘mengendalikan diri’ sebagai upaya untuk mengalahkan ego dalam mencapai hakikat sejati dibalik realitas obyektif yang bisa ditangkap oleh indera. Pengendalian diri, lelaku dan tirakat dalam menghancurkan ego untuk mencapai kesejatian. Ego yang selalu menuntut untuk puaskan dan dirajakan, bagi mereka adalah musuh yang harus dikendalikan. Dalam ajaran ini, hati itu adalah medan pertempuran. Pertempuran antara ego dan kesejatian hakiki.

Dalam suatu kajian mengenai meditasi transendental memperlihatkan, dua kelompok meditator yang berada di tempat yang berlainan dapat berinteraksi satu sama lain dalam meditasi. Dalam pandangan interconnectedness (kesalingterkaitan), menjadi jelas bahwa kesadaran tak hanya dibangkitkan dari otak, meskipun otak secara intim sangat berhubungan dengan ekspresi kesadaran. Austin (Prof James Austin MD, Neurolog dan Profesor Emeritus dari Pusat Pelayanan Kesehatan Universitas Colorado) menegaskan, pengalaman mistik memperlihatkan bahwa kesadaran merupakan properti semesta.

Data terakhir juga memperlihatkan bahwa doa dapat menjadi sarana penyembuhan dari jauh. Doa yang khusyuk dengan hati bersih akan membukakan hati untuk menerima kekuatan Ilahi bagi kedamaian yang menyembuhkan, menguatkan, dan menemukan jalan.

Demikian kiranya pendekatan kearifan dari timur.

Penutup

Dari sini, mulai dapat dilihat titik pendekatan sains dalam menjelaskan apa itu firasat. Firasat mungkin dapat dipahami sebagai moment dimana bagian jiwa manusia menggunakan otak holografisnya untuk mengakses memori universal yang terekam dibalik superhologram (Holographic Universe). Bagaimana membedakan antara akses yang tepat dan tidak, kearifan dari timur telah memberikan bermacam-macam metode yang berbeda-beda, bergantung madzab dan ajarannya.

Pendekatan ini pula yang menjadi titik temu antara agama dengan sains (dan psikologis sebagai bahasan sains). Di sinilah suatu titik yang membawa perubahan pada perkembangan sains selanjutnya yang juga berpengaruh pada perkembangan psikologi dimana psikologi mulai melirik agama untuk studi-studinya dan rahasia-rahasia mistis agama mulai dapat dipahami.

Wednesday, November 01, 2006

Perintah Tidur dan Bangun

Mungkin karena kebiasaan saja. Sebelum tidur, kadang aku memesankan pada diri sendiri untuk tidur hanya 10 menit saja, satu jam saja atau dua jam saja. Maklumlah sebagai orang yang menjual tenaga dan pikirannya ke orang lain, di saat kerja, kurang layak sebenarnya untuk tidur. Tapi, kelelahan kadang tidak bisa dikompromikan. Seperti juga pekerjaan yang tak mau dibatasi waktunya.
Kalau keinginan untuk membatasi atau bangun pada waktu yang ditetapkan itu serius dipersiapkan sebelum tidur, maka nyaris hampir 90% lebih dari kejadian itu, aku selalu bangun sesuai dengan pesan untuk otakku sebelum tidur. Sering pula tepat sampai pada hitungan menit. Hanya kondisi-kondisi tertentu saja kondisi ini tidak tercapai. Misalnya karena bagadang semalaman, tidur kurang dari 2-3 jam sehari, atau kondisi-kondisi force mayeur lainnya. Kebutuhan untuk memerintahkan badan bangun pada waktu yang diinginkan bisa karena kebiasaan, mau pergi ke luar kota dan berangkat pagi, 10 menit menjelang subuh tiba dan kondisi rutinitas lainnya yang mengharuskan bangun dari kelelapan tidur.

Hanya saja, saya tak bisa menjelaskan bagaimana otak dan hati memahami perintah sebelum tidur itu untuk bangun pada waktu yang diinginkan. Apakah ungkapan dalam hati itu dicatat oleh jaringan otak untuk membangunkan jasad pada waktunya. Kalau memang begitu, berarti otak bawah sadar seharusnya punya kriteria terhadap pesan hati yang dicatat sebelum tidur dan juga mengerti kapan (berapa lama) harus tertidur. Kalau begitu, ketika sebelum tidur menyampaikan ke tubuh kita : "saya mau tidur 1 jam saja", maka catatan hati itu mulai menghidupkan alarmnya, untuk 60 menit kemudian atau sebelum sampai ke angka 60 menit, mulai dilakukan pemanasan untuk membangunkan sang raga. Ataukah pesan yang disampaikan itu diterima oleh penjaga kita, lalu sang penjaga mengingatkan bahwa :"... eh.. lu sudah waktunya untuk bangun. Kan tadi kamu minta dibangunkan sekarang... ayo bangun...". Dan blas, Alhamdulillah.... perlahan tapi pasti, kelopak mata terbuka, alam bawah sadar menutup tirainya kembali dan kesadaran rasional kembali membuka pintunya. Alam itu holistik, jalin menjalin, terintegrasi dan terpecah belah secara utuh, terstruktur, tak terpahami permulaannya dan tak terdefiniskan juga akhirnya.

Tuesday, October 17, 2006

Yang Dipakai Berbeda Dengan Yang Dilihat

"Ah desahku", aku mengeluhkan kembali untuk kesekian kalinya bahwa sendal yang kupakai di subuh itu hilang (dipakai orang lain). Rasanya aku ingat benar, bahwa aku memilih sendal hitam bertali bercak putih yang kubawa ke mesjid dekat rumah itu. Usai solat bersama, aku mengeluh bahwa salah satu jamaah yang jumlahnya tidak banyak itu telah mengambil atau tepatnya memakai sandal milikku. Bahkan sampai saat terakhir, setelah semua jamaah terakhir keluar dari mesjid, yang tersisa hanya satu sandal hijau bertanda saja. Karena itu bukan sandalku, maka aku tak mau memakai sandal itu. Isteriku yang tahu aku kehilangan sandal agar tidak usah ribut. Malu. Jadi keep silent saja deh. Aku pun berangkat pulang ke rumah tanpa sandal. Ada rasa dongkol, juga rasa pasrah, juga kuangap sebagai ujian kecil saja. Harga sebuah sandal toh tidak begitu mahal, hanya belasan ribu saja. Jadi, tanpa kecil hati akupun melangkah kembali ke rumah. Kerikil-kerikil kecil yang terinjak kulit kakiku menambah kenikmatan berjalan. Sampai di depan rumah, persis di depan pintu masuk ruang tamu, aku terkejut. Ternyata sepasang sendal milikku itu berada tepat di depan pintu ruang tamu, di teras rumah. Aku terpana, sungguh. Aku tak habis mengerti, kenapa sendal itu ada di teras rumahku. Hanya ada dua kemungkinan seruku dalam hati. "Sendal itu emang kembali sendiri atau aku memang memakai sendal hijau bertanda itu" ke mesjid. Namun, karena pikiranku mengatakan bahwa aku memakai sendal hitam bercak putih, maka meskipun aku memakai sendal hijau, tetap saja pikiranku lebih mempercayai memakai sendal hitam bercak putih. Kadang kita memang cenderung mempercayai apa yang ada dalam pikiran kita, dan bukan apa yang sesungguhnya terjadi. Kenapa?.... Ya karena, yang kita lihat, tidak sama dengan yang kita pikirkan, juga tidak sama dengan kejadiannya, dan kita kadang juga tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Kita hanya mempresepsikan saja. Kembali kepada sendal... sampai sekarang aku percaya saja, meskipun ragu bahwa aku telah memakai sendal hijau itu. Tapi jelas aku juga harus menafikkan logika ada sendal pulang duluan. Yang jelas pula, seluruh rasio berpikirku menyatakan bahwa aku khilaf pada sendal yang kubawa/kupakai malam itu.

Sunday, October 15, 2006

Mimpi yang membangunkan dari tidur

Apa yang terjadi, katakanlah badan berada pada suatu kondisi yang mengharuskannya untuk bangun karena ingin ke belakang atau kedinginan atau leher tertekuk sehingga pernafasan tidak lancar?. Sedangkan pada saat yang sama, pemilik tubuh itu sedang tidur nyenyak?.
Pertanyaannya : Adakah mekanisme logis untuk membangunkan jasad fisik yang sedang tertidur itu?
Baru kemudian saya sadari, salah satu usaha dari mimpi itu adalah mekanisme untuk membangunkan orang dari tidur. Atau dengan kata lain, memberikan masukan dari alam bawah sadar ke alam kesadaran agar rasional/logika.
Usaha-usaha oleh kondisi badan untuk membangunkan alam sadar dilakukan melalui stimulus-stimulus yang ditransformasikan ke alam sadar dan dipahami sebagai mimpi. Mimpi itu tampaknya merangsang otak sadar untuk terbangun sehingga alam sadar bisa kembali pada posisinya. Jadilah kita terbangun dari mimpi.
Karena itu, beberapa kali saya bermimpi kebanjiran, dikejar-kejar maling atau sejenisnya dan ketika terbangun, terasa benar penuhnya kandung kemih atau hal lainnya sehingga mengharuskan ke belakang.

Friday, October 13, 2006

Tangan yang tak dikenali badannya.

Di perbatasan antara tidur dan bangun, aku merasa ada tangan dingin yang diletakkan begitu saja di atas badanku. Meskipun kantuk yang masih berat menerpa tubuh, tapi pikiran rasional mulai mengemuka ketika terasa ada sesuatu atau lebih tepatnya sentuhan lain yang menyentuh badanku. Sentuhan yang tidak biasa. Aku jelas sangat terkejut dan nyaris ketakutan. Keringat deras membasahi muka dan badanku. Sentuhan itu terasa begitu dingin, kuat, dan menakutkan. Pikiran merambah pada dimensi-dimensi ketakutan atau gangguan dari mahluk-mahluk dari sebrang sana. Tangan yang menyentuh dadaku itu membuat sesak bernafas. Mataku masih tertutup dan sangat berat untuk dibuka. Dengan sekuat tenaga aku membuka mata dari kantuk dan ketakutan menyengat sekujur tubuh.
Blas... aku terbangun. Ternyata yang tampak di mataku itu adalah tanganku sendiri.
Sungguh keheranan luar biasa menyelimuti. Biasanya, orang meskipun tidur, tahu dimana letak tangannya sendiri. Setidaknya informasi bawah sadar mengatur posisi antara anggota badan dan badannya sendiri. Rupanya dalam kasus ini terjadi perbedaan. Ketika tidur, pergerakan tangan tidak terdeteksi oleh sistem syaraf lainnya sehingga sistem saraf tidak menyadari bahwa tangan sendiri tergeletak di atas badan sedangkan "pikiran" tentang posisi tangan itu sendiri berada pada kancah yang berbeda dengan posisi sebenarnya. Kondisi ini, membuat aku tidak bisa menyadari bahwa yang di atas badan itu adalah tangan sendiri.
Ini bukan soal iblis atau sejenisnya. Menurut referensi yang kudapat. Kondisi ini bisa terjadi karena kesehatan yang menurun, tangan terjepit oleh badan saat tidur sehingga reposisi syaraf terhadap posisi pergerakan tangan yang terdeteksi otomatis gagal dilakukan. Jadi, ketika sesungguhnya tangan itu berada di atas badannya, reaksi badan terhadap tangan itu menjadi objek yang tidak dikenali sebagai anggota tubuhnya. Tapi dari sumber luar. Itulah katanya yang telah terjadi.

Namun, apapun yang menjadi alasannya.... bayangan bahwa tangan itu adalah tangan raksasa yang berbulu dan menyeramkan sudah terlanjur masuk dalam angan-angan, meskipun faktanya tidaklah demikian. Rupanya aku harus periksakan diri ke dokter atau memang, karena tidur di dipan yang keras, aliran darah tidak mengalir dengan baik sehingga hal seperti ini terjadi.

Tuesday, October 10, 2006

Siapa Yang Memanggil?

"Ya, masih ada pekerjaan sedikit lagi!". Jawabku sekenanya ketika pembantu di kantor itu bertanya. Aku tetap asyik menghadap komputer. Pekerjaan laporan yang harus kukerjakan sampai malam ini cukup menguras tenaga. Sejenak kemudian aku merasa kurang sopan menjawab tanpa menoleh. Maka kutolehkan mataku ke arah suara yang bertanya itu berasal. Ruangan yang cukup besar itu kosong. Tidak ada tanda-tanda apapun. Bulu kudukku meremang. Aku emang penakut, situasi ini tidak kukehendaki. Ternyata tidak ada yang bertanya. Rasa takut menyelimutiku. Buru-buru kumatikan komputer dan bersegera pulang. Aku berjalan melalui lorong sepanjang 30 meteran untuk mencapai pintu depan. Sampai di pintu depan, aku kecewa bukan kepalang. Ternyata sudah dikunci. Berarti pilihannya aku kembali lagi mengurut lorong setengah gelap itu untuk lewati ruanganku dan meneruskan keluar melalui pintu belakang. Rasannya begitu berat untuk berputar kembali, langkah untuk berlari pun tak sanggup. Ah begitu berat ketakutan itu. Langkah tanpa pilihan kuayunkan. Dalam hati aku berharap, mudah-mudahan yang bersuara tadi itu tidak bertanya lagi. Aku khawatir, di pojok lorong gang kantor yang panjang itu sepanjang 50 meteran itu, dia menatapku tersenyum manis tapi matanya merah dan menyeramkan. Selangkah-demi selangkah, terus kujalani. Terasa begitu lama, dan akhirnya sampai juga diujung lorong kembali. Ternyata tak ada yang bertanya lagi. Rasa takut memang lebih besar dari sumber takut itu sendiri.
Lega juga, ketika sampai di lorong belakang. Ternyata ketakutan itu ada nikmatnya juga, ada energi yang mengalir dalam ketakutan itu.....

Wednesday, September 20, 2006

Suara pada Anak Tangga

Suara "sesuatu" yang naik tangga nyaris terjadi setiap malam. Setidaknya bagi banyak teman yang masih bagadang bekerja di kantor. Satpam sudah bilang, itu si Anu (ngkali) yang memang selalu berjalan sekitar jam 23.30-23.45 itu.
Malam itu, ketika sedang asyik bekerja di depan komputer tak sengaja terdengar suara kaki melangkah di tangga kayu ke lantai dua. Sedikit aku tersentak. Untuk membuka pintu menengok rasanya terhalangi oleh keberanian. Jadi kubiarkan saja dengan sedikit doa dan kekhawatiran. Tapi, karena pekerjaan juga banyak, aku tak begitu perduli. Sesaat kemudian, kira-kira 10 menitan, suara kaki menuruni lantai terdengar lagi. Begitulah, nyaris setiap malam ketika bergadang di kantor kudengar suara itu. Kata Pak Maryono, Satpam di kantor itu memang rutin, tapi tidak pernah terlihat wujudnya.
Kebetulan, memang tangga kayu yang naik dari lantai dua itu persis di depan pintu ruanganku.
Akhirnya, pada suatu malam, sengaja kubuka pintu kamar sedikit dan aku tiduran menghadap tangga. Jam menunjukkan jam 23.10. Kurasa sebentar lagi ada suara langkah itu. Suara yang sudah cukup akrab di telinga. Ada sedikit kekhawatiran, namun kuberanikan diri. Ketika jam sudah kian mendekati waktunya, jantung berdebar semakin kencang. Sulit dijelaskan, ketika memang benar, sayup mulai terdengar suara langkah kaki itu. Aku tak sanggup mendorong pintu untuk melihatnya. Rasanya kelu seluruh tulang sendi. Aku diam saja sampai suara langkah itu menghilang. Aku tahu, sebentar lagi suara kaki menurun akan terjadi.
Tak lama, memang suara langkah turun terdengar lagi sayup di keheningan malam. Dalam beberapa detik lagi,suara turun tangga itu akan hilang untuk datang lagi esok malamnya. Terbayang yang sedang berjalan turun tangga itu mahluk yang wajahnya pasti seram dan menyerangai bila menolehku. Mungkin, dia akan menerkamku atau menertawakanku. Namun, keputusan toh harus dibuat. Jadi, antara takut dan berani, aku setengah meloncat membuka pintu.
Blas, pintu terbuka. Aku melihat seekor luwak yang terbirit-birit, meloncat lewat jendela rusak bawah tangga ke atap lantai satu yang memang berada tepat di bawah anak tangga.
Esoknya, aku ceritakan ke Pak Maryono, satpam kantor itu. Itu cuma seekor luwak saja. Memang di belakang kantorku itu masih setengah hutan. Jadi logis saja ada seekor luwak yang berkunjung setiap malam ke dapur di lantai dua. Mungkin mencari remah makanan. Yang hebat, luwak, si mahluk malam itu tertib berkunjungnya, pada waktu yang mungkin sudah menjadi siklus hidupnya.
Sejak saat itu, aku tak mau membuka pintu lagi, tapi juga tidak perlu khawatir akan mahluk malam itu.....